AYO DATANG KE BAKUL, ADA PECEL PITIK DI SANA

Jumat, 7 April 2017


Apa yang kita bayangkan jika mendengar kata “pecel”? Tentu, makanan yang satu ini tak asing lagi bagi orang-orang Indonesia. Aroma khas sambal kacang, nasi hangat dan sayur-mayur begitu kuat menggoda selera. Jadi  terbayang, kan, rasanya? Tapi, apakah pecel yang satu ini berbeda? Ya, Banyuwangi selalu punya beda!

Tanggal 12 April 2017 mendatang, Banyuwangi akan kembali menggelar festival Banyuwangi Kuliner (Bakul). Tema yang diusung tahun ini adalah Pecel Pitik , makanan khas daerah yang melegenda. Semua peserta festival sudah melakukan Technical Meeting hari Kamis kemarin, 6 April 2017 di aula BPKAD.

 

PECEL PITIK YANG YUUUMMY...

Bahan utama pecel pitik adalah ayam kampung yang telah dibakar sebelum dibumbui. Rasanya segar menggoda. Jika pecel lain adalah sayur-mayur yang disiram sambal kacang, maka pecel pitik berwujud ayam suwir dengan parutan kelapa dan sambal kacang yang dicampur jadi satu. Sayur-mayurnya bermacam-macam mulai dari kangkung, kacang panjang, terong, labu siam, selada hingga pupus daun singkong. Sayur mayur nan segar ini  disandingkan dengan pecel dalam satu nampan berikut tumpengnya yang mengepul dan mengerucut.  Hmmm.., yummy..!

Pecel Pitik biasa disajikan saat upacara-upacara adat suku Osing seperti hajatan, selamatan dan bersih desa.  Cara mengolahnya pun istimewa. Ritual upacara bahkan sudah berjalan saat proses memasak dimulai. Koki tak boleh banyak bicara supaya kekhidmatannya terjaga. Layaknya upacara adat di Nusantara lainnya, upacara adat Osing juga merupakan pujian rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam upacara adat, tumpeng dimakan bersama-sama  setelah didoakan. Display tumpeng yang menarik dan artistik juga merupakan simbol alam, kemajemukan serta doa yang dipanjatkan pada satu titik tertinggi.

 

TECHNICAL MEETING

Pada Festival Bakul tersebut, peserta akan mengenakan pakaian adat Banyuwangi. Kostumnya boleh unik, asal masih dalam batasan sopan. Kriteria penilaiannya adalah citarasa (taste), kreativitas dan kebersihan (higienis). Ayam (pitik) yang mereka gunakan tidak boleh lebih dari setengah kilogram untuk satu mini tumpeng. Peserta pada saat penilaian hanya ada satu orang, tapi tentu di luar itu ia punya tim yang membantu kesuksesannya hingga festival selesai.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, festival Bakul akan diikuti banyak peserta yang terdiri dari penjual (pecel pitik), hotel, jasa boga, perwakilan SKPD; perbankan; koperasi; organisasi-organisasi wanita, bahkan wisatawan mancanegara. Mereka dibagi dalam kategori A,B dan C.  Jurinya pun adalah orang-orang yang tidak diragukannya keahlian atau kemahiran mereka dalam masak-memasak (kuliner) yang masing-masing unsur SKPD , unsur umum  (asosiasi kuliner),  unsur akademisi dan juri kehormatan.

“Alhamdulillah saya sangat bangga dan seneng bgt. SKPD telah mempercayakan saya untuk jadi peserta festival pecel pitik. Semoga saya bisa menyajikan yang terbaik,“ komentar Dewi Sinta, salah satu peserta yang mengikuti Technical Meeting kemarin. Ia bersama Juwita akan mewakili BPKAD dalam Festival Bakul ini.

CHEF JUNA

Festival Banyuwangi Kuliner selalu menghadirkan yang baru tiap tahunnya. Jenis masakannya berbeda-beda, bahkan bintang tamunya pun juga. Pada tahun-tahun sebelumnya, Bakul telah mengangkat rujak soto, sego tempong dan sego cawuk sebagai menu andalannya. Chef Marinka dan Chef Aiko bahkan pernah menghadiri festival yang diselenggarakan setiap tahun di Banyuwangi tersebut.

Tahun ini giliran Chef Juna (Junior Rorimpandey), yang akan mampir ke Bakul tahun 2017 sebagai juri kehormatan. Mantan juri Master Chef  ini akan mendemonstrasikan kemampunnya mengolah pecel pitik di hadapan semua peserta dan masyarakat Banyuwangi. Apakah masakan sang chef akan seenak ibu-ibu di Banyuwangi? Kita tunggu saja hasilnya. (bpkad/ki)