BTTP dan Banyuwangi Kolaborasi Kembangkan Cokelat dan Kopi
Senin, 11 Maret 2019
Tak diragukan lagi, kopi dan cokelat telah menjadi favorit dunia. Dewasa ini, beragam produksi makanan dan minuman berbahan dasar kopi dan cokelat begitu laris manis. Keduanya hampir selalu hadir di setiap kesempatan. Tak hanya di kafe-kafe, restoran atau warung-warung kopi, tapi juga disajikan di rumah-rumah dan acara-acara sosial lainnya.
Hal inilah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) guna mengembangkan kopi dan cokelat di Banyuwangi. “Kami kerja bareng BPPT menyiapkan SDM kopi dan kakao sebagai bahan dasar cokelat karena dua komoditas itu cukup berlimpah di sini,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan Kepala BPPT Hammam Riza, Jumat (8/3).
Lebih lanjut, nota kesepahaman ini akan fokus pada tiga bidang, yakni peningkatan kompetensi teknologi budidaya kopi dan kakao; Peningkatan kompetensi teknologi pengolahan kopi dan kakao; Serta pelatihan kewirausahaan pengusaha kopi dan kakao pemula berbasis teknologi di Kabupaten Banyuwangi.
Menurut Bupati Anas, saat ini di Banyuwangi telah tumbuh lebih dari 100 bisnis berbahan dasar kopi dan cokelat yang dirintis kaum muda Banyuwangi.. Dengan startegi pengolahan dan pemasaran yang tepat, Bupati Anas optimis kedua komoditas ini akan menjadi menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. “Kuncinya adalah bikin produk yang baik, jangan kemahalan dan jangan kemurahan, pasarkan online,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, BPPT akan memperkenalkan teknologi smartfarming kepada para petani kopi dan kakao di Banyuwangi. "Kita lakukan diversifikasi produk. Kita berikan nilai tambah pada biji kopi dan kakao. Jadi petani tidak lagi hanya menjual biji mentah saja. Dengan begitu nilai jualnya juga akan lebih tinggi," urai Kepala BPPT.
Tidak kalah pentingnya, Kepala BPPT berujar bahwa pembangunan suatu wilayah pasti mengandalkan potensi sumber daya alam, namun juga harus dipadukan dengan penguatan sumberdaya manusia (SDM). "Target BPPT dan Pemkab Banyuwangi tidak berhenti hanya sampai peningkatan produksi kopi dan kakao saja. Proses dari hulur ke hilir ini merupakan sebuah dukungan teknologi untuk mencetak technopreneur di bidang agro," tegasnya.
Lebih lanjut, kolaborasi ini berfokus pada para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan santri untuk didorong menjadi pengusaha pemula berbasis teknologi. Pada tahap awal, ratusan siswa dan santri dari 10 SMK dan pesantren akan dilatih budidaya dan pengolahan dari hulu ke hilir tentang pengembangan komoditas kopi dan cokelat.
Dengan konsep pengembangan dari hulu ke hilir, diharapkan anak-anak muda Banyuwangi akan lebih giat lagi menjadi pebisnis kopi dan cokelat. Dari hulu, BPPT membantu budidaya kakao lewat teknologi smartfarming. Selanjutnya apabila produksi sudah meningkat, BPPT akan mendampingi dalam peningkatan pengolahan kopi dan kakao dengan menggunakan berbagai produk inovasi dari BPPT untuk menghasilkan produk minuman ataupun produk olahan lainnya yang memiliki keunggulan dan kekhasan Banyuwangi.
Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAP) BPPT, Soni Solistia Wirawan mengatakan, Banyuwangi memiliki potensi kopi dan kakao yang kualitasnya telah diakui dunia. “Kami juga akan membantu menyiapkan teknologinya. Keinginan Banyuwangi untuk memperkenalkan dunia kopi dan kakao sebagai bahan baku cokelat kepada para pelajar sejak SMP layak diapresiasi. Apalagi jika diusulkan untuk membuka SMK jurusan kopi dan cokelat,” lanjutnya.
Sementara itu dalam waktu dekat, sekolah-sekolah menengah (SMP dan SMA/SMK) di Banyuwangi, termasuk yang berbasis pesantren dan lokasinya dekat dengan perkebunan akan mulai dimasuki ekstrakurikuler kopi dan cokelat. “Dengan strategi ini, harapan kami bisa lahir banyak entrepreneur yang kreatif dalam menggarap potensi agro di Banyuwangi. Tidak hanya kopi dan cokelat, potenis holtikultura seperti jeruk, buah naga, dan manggis Banyuwangi juga melimpah,” pungkas Bupati Anas. (***)