Kali Bersih, Warga Bahagia
Kamis, 13 April 2017
Festival selalu identik dengan hal-hal menyenangkan. Acara seperti ini melecut semangat warga sekitar dan menarik wisatawan. Bukan hanya menghibur, tapi festival juga membuat masyarakat termotivasi untuk memelihara daerahnya dan mengulang festival itu di waktu-waktu mendatang.
Begitu juga Banyuwangi. Dengan geliatnya untuk terus membangun, Banyuwangi tak lupa mengangkat salah satu elemen penting lingkungannya yaitu sungai. Ya, sungai yang identik dengan hal-hal kotor, penuh sampah dan berbau menyengat itu kini dipercantik. Warna-warni catnya menghiasi badan sungai. Tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan. Wajah-wajah sungai itu bersinar dan banyak dikunjungi orang untuk bersantai dan selfie.
Menebar Ikan Nila Merah
Festival Kali Bersih di Dam Durahhman pada Sabtu 8 April 2017 lalu berjalan meriah. Bupati Anas menyusuri sungai di Dusun Cungkingan, Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari itu menggunakan perahu. Ia menebar bibit ikan nila merah sebanyak 5000 ekor ke sungai yang nampak bersih dan cantik.
Dahulu, sungai ini sangat kotor dan kumuh karena digunakan warga untuk membuang sampah dan melakukan aktivitas yang tidak semestinya. Kini upaya untuk mengedukasi masyarakat terus dilakukan agar kesadaran mereka dalam menjaga lingkungan tetap terjaga. Tentu, upaya ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kelak, upaya ini diharapkan bisa memberi dampak baik pada masyarakat mulai dari kesehatan, keindahan bahkan kemandirian ekonomi.
Selain Dam Durahhman, ada juga Dam Gembleng, Rogojampi; Dam BLC Cluring; Dam Setail di Genteng dan Kali Lo di Banyuwangi kota. Sungai-sungai ini mulai menjadi destinasi wisata baru dan ramai dikunjungi masyarakat. Warga jadi malu membuang sampah di sungai lagi. Bahkan ada CCTV yang dipasang di sejumlah titik tertentu di dekat Kali Lo yang melewati wilayah padat penduduk.
Sungai benar-benar akan dikembalikan fungsinya seperti semula. Bibit-bibit ikan pun akan ditebar. Sampah-sampah harus dibuang ke tempat sampah. Setiap desa harus mempunyai Tempat Pembuangan Akhir mandiri dengan luas 1000-3000 m2. TPA ini juga mengelola pengolahan sampah organik untuk dijadikan pupuk. “Kami tengah menyiapkan Perbup yang mengatur tentang pengawasan sungai yang di dalamnya ada sanksi bagi pembuang sampah di sungai,” kata Husnul Chotimah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup.
Sungai yang Legendaris
Dalam legenda, Banyuwangi identik dengan sungai. Asal-usul Banyuwangi menceritakan, konon namanya diambil dari sungai yang berbau harum akibat dialiri darah Putri Sritanjung yang menjunjung kesetiaannya pada sang suami. Cerita ini tersebar ke berbagai penjuru nusantara bahkan mancanegara. Jadi, alangkah ironisnya jika sungai-sungai di Banyuwangi tidak mencerminkan keindahan, apalagi menguarkan bau tak sedap. Karena itu, berbagai upaya di atas terus dilakukan. Dari desa hingga ke kota; dari menyediakan tempat sampah di pinggir sungai hingga mengedukasi anak-anak agar membuang sampah pada tempatnya.
Sungai (Kali) memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Ia mengalirkan air dari hulu hingga ke muara. Dari generasi ke generasi, manusia memilih bermukim di sekitar daerah aliran sungai dengan tujuan agar lebih mudah mencari air dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Lahan pertanian juga lebih subur dengan adanya sungai. Bahkan, sebuah kincir air kecil yang dipasang di sungai dapat membangkitkan listrik yang dapat menerangi sebuah wilayah perkampungan.
Begitu besarnya peran sungai, hingga manusia sering mengabaikan kelestariannya. Mereka tidak malu membuang sampah ke sungai dan bahkan mengeluh saja jika airnya tercemari. Padahal, jika manusia mau mengembalikan fungsi sungai, banyak manfaat yang bisa diambil.
· Mencegah banjir. Sungai adalah tempat menampung air yang terus mengalir. Jika alirannya tersumbat, maka akan menimbulkan banjir yang akan merendam pemukiman dan mengancam lahan pertanian.
· Untuk Mencari Nafkah. Ikan yang diambil dari sungai bisa dijual untuk dikonsumsi. Bukan hanya mengambil langsung, warga juga dapat membuat keramba. Budidaya ikan dalam keramba tentu hasilnya lebih menjanjikan daripada memancing.
· Tempat Rekreasi. Sungai yang bersih, sejuk dan cantik akan menarik wisatawan. Air yang bergemericik membuat orang-orang memanfaatkan sebagai tempat istirahat. Selain biayanya yang murah, wisata di pinggir sungai juga lebih terjangkau karena lokasinya relatif dekat dengan pemukiman warga.
· Pusat Dari Ekosistem. Ekosistem sungai terdiri dari ikan, ular, serangga, pohon, rumput dan lain sebagainya. Mereka berperan penting dalam pelestarian alam. Jika salah satu elemen ini terganggu, maka rantai makanan bisa terputus dan berakibat punahnya kelangsungan hidup ekosistem lainnya. (bpkad/ki)