Puter Kayun BPKAD ke BANYUWANGI ETHNO CARNIVAL (BEC) 2018
Selasa, 31 Juli 2018
"Tanpa manusia, budaya tidak ada. Namun lebih penting dari itu, tanpa budaya manusia tidak akan ada" (Clitford Geetz).
Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) kembali dihelat di ujung timur Jawa, Banyuwangi (29/7/2018). Dengan mengusung tema Puter Kayun, sebanyak 120 peserta mewarnai jalanan sepanjang Taman Blambangan hingga Stadion Diponegoro. Dengan dinaungi cerahnya langit Banyuwangi, mereka berlenggak-lenggok memamerkan kreativitas putra-putri daerah dalam ragam seni rupa yang diwujudkan aneka bentuk busana yang memukau mata penonton.
Pada BEC kedelapan ini, BPKAD Kabupaten Banyuwangi juga ikut berpartisipasi. Dengan mendelegasikan Novi Ariyanti, staf dari bidang Aset, BPKAD memeriahkan pawai bergengsi tersebut. Pada nomor urut 9, Novi membawa kostum dengan sub tema Dongkar berwarna merah, cokelat dan emas. Bulatan-bulatan menyerupai roda-roda menghiasi tubuhnya. Wajahnya pun dirias sangat unik ala karnaval modern.
Novi telah melewati banyak proses sebelum hari H. Ia mengikuti workshop tentang bagaimana teknik berjalan, carnival make up dan design costum. Pengerjaan kostum butuh waktu 3 bulan karena sedikit rumit. Kostum yang ia pakai memang lebih mengutamakan detail daripada ukirannya. Tentu, ada kepuasan tersendiri membawa hasil karya tersebut. Rasa lelah pun terbayar. Dengan kostum seberat 25-30 kg yang sukses diusungnya hingga finish, Novi turut mengharumkan nama BPKAD Kabupaten Banyuwangi sebagai partisipan dalam salah satu agenda Banyuwangi Festival 2018.
“Senang sekali bisa mengikuti Banyuwangi Ethno Carnival ini. Saya juga bisa menemukan pengalaman dan keluarga baru serta tetap kreatif mengembangkan budaya Banyuwangi,” ungkap wanita asli kelahiran Banyuwangi ini. Semua kerja keras itu pun tak luput dari kerjasama tim yang menyertainya. Dari pembuatan kostum hingga penampilan yang begitu memuaskan, para anggota tim selalu mendukung setiap langkahnya. “Terimakasih untuk tim yang menyertai saya serta dukungan teman-teman BPKAD Kabupaten Banyuwangi dari pra hingga pasca acara,” tambahnya.
Saat ditanya harapannya pada acara-acara Banyuwangi Ethno Carnival, Novi menyatakan jika acara ini sangat bagus dan tetap perlu dilanjutkan hingga tahun-tahun mendatang, “Semoga BEC ini makin sukses, lebih kreatif dan go internasional.”
KARNAVAL ETNIK CITARASA INTERNASIONAL
Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2018 merupakan salah satu rangkaian dari Banyuwangi Festival (B-Fest). Tahun ini BEC sudah memasuki tahun kedelapan mewarnai bumi Blambangan. Sepanjang pelaksanaanya, BEC selalu mengusung tema-tema adat Banyuwangi dengan budaya-budaya lokalnya yang memukau. Pada BEC pertama tahun 2011 ada gandrung,damarwulan dan kundaran sebagai ikonnya. Selanjutnya pada 2012, pagelaran ini bertajuk “Re_Barong Using”. Kesuksesan dua even itu pun disusul “The Legend of Kebo-Keboan” tahun 2013. Kemudian Tari Seblang diusung BEC 2014. Pengantin-pengantin Using yang unik pun muncul di BEC kelima, satu tahun kemudian. Menyusul tokoh legendaris Sritanjung-Sidopekso, dan selanjutnya Blue Fire yang terkenal di seluruh penjuru dunia.
Tema-tema lokal yang diusung BEC memang bertujuan untuk mengenalkan budaya Banyuwangi ke dunia internasional. Karnaval adalah salah satu acara yang sangat digemari masyarakat lokal maupun dunia karena selain menghibur, juga menampilkan kreasi-kreasi baru dari berbagai lapisan masyarakat. Orang boleh berekspresi dan meluncurkan karya-karya mereka yang merupakan kolaborasi dari fashion, seni rupa, tari, teater, instalasi dan aneka ragam budaya. Maka, ketika tahun 2018 ini Banyuwangi mengangkat tema “Puter Kayun” sebagai tema besarnya, Banyuwangi pun terkuatkan eksistensinya sebagai The Best Festival City versi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI.
Tema Puter Kayun yang digelar BEC kali ini dibagi dalam sepuluh sub tema yang berkaitan dengan tradisi aslinya. Sub-sub tema tersebut meliputi segoro (laut) Watudodol; ejeg (kusir kereta bupati); dongkar (dokar); jaran (kuda); gedhogan (lesung dan alu untuk menumbuk padi); Buyut Jaksa; keris (senjata khas dari pulau Jawa); oncor-oncoran (obor); tapekong (orang orangan menyerupai boneka raksasa ondel-ondel); dan kupat lepet (nasi dari beras atau ketan yang dibungkus dalam selongsong daun kelapa).
Sajian-sajian menarik dalam BEC 2018 memang agak berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Penonton yang tak bisa mengakses panggung utama dapat tetap menikmati di panggung-panggung lain. Hal ini tidak lepas dari keterlibatan rakyat bersama jajaran Pegawai Negeri Sipil (PNS). Memang, tak seperti even-even serupa di kota lain, BEC tidak dikerjakan oleh oleh event organizer (EO). “Para budayawanlah yang berinisiatif mengajukan tema Banyuwangi Ethno Carnival, “ papar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.
Rupanya, even ini memang sudah dikenal luas oleh masyarakat sebagai salah satu tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Masyarakat Banyuwangi beserta para wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman) memadati jalan-jalan demi menyaksikan penampilan-penampilan ragam kostum etnik. Mereka juga menyebar di sepuluh panggung (stage) yang telah disediakan dengan beragam penampilan seni daerah asli Banyuwangi.
Dias Norma warga Rogojampi yang menyisihkan waktu untuk datang ke acara ini mengatakan, jika ia sangat bangga karena BEC terus diadakan di kota Banyuwangi. “Saya merasa senang karena bisa menjadi kesempatan para seniman untuk bisa mengapresiasikan karya-karya mereka. Hasilnya begitu memukau. Hebat para seniman Banyuwangi lokal,” pujinya.
Sementara itu Cassandra, seorang wisman dari Italia tampak terkesan menyaksikan penampilan para peserta. Ia juga tekun menyimak penampilan Sanggar Seni Dewi Sri di stage 5 yang bertema Buyut Jaksa, “This is a good carnival. Banyuwangi presents cultural heritage in a new packaging.”
Tak ketinggalan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menghadiri atraksi wisata ini. Di ujung sesi karnaval, ia pun ikut berjalan bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyusuri jalanan sepanjang sekitar 3 kilometer. Sepanjang jalan, jempolnya teracung sebagai apresiasi pada BEC, “Saya terkesan dan sangat menikmati. Kebersamaan pemerintah dan rakyat menyatu di karnaval ini. Banyuwangi paten!" kata Luhut. Dalam bahasa khas Medan, paten berarti hebat.
PUTER KAYUN, TRADISI LEBARAN DI BANYUWANGI
Puter Kayun merupakan tradisi napak tilas dengan cara beramai-ramai naik dongkar (delman/dokar). Setiap tahunnya, masyarakat Using Boyolangu, Kecamatan Giri Banyuwangi bersama-sama menempuh jarak limabelas kilometer dari Kelurahan Boyolangu menuju Pantai Watudodol. Mereka melaksanakan tradisi itu setiap tanggal 10 Syawal.
Konon, leluhur masyarakat Boyolangu yang bernama Ki Buyut Jaksa mendapat mandat untuk membantu jalan ke arah utara Banyuwangi. Pada saat itu, daerah tersebut terkenal angker dan tak dapat dilewati masyarakat. Maka, Ki Buyut Jaksa pun bertapa di Gunung Silangu. Saat ini, daerah tersebut menjadi daerah Boyolangu. Akhirnya, jalan itu pun dapat dibuka dan diberi nama Watudodol, yang artinya watu didodol (batu dibongkar).
Oleh karena itu, hingga sekarang masyarakat Boyolangu melaksanakan Puter Kayun sebagai peringatan atas jasa Ki Buyut Jaksa. Pada zaman dahulu, orang-orang Boyolangu banyak yang berprofesi sebagai kusir dongkar sehingga napak tilas itupun dilakukan dengan mengendarai kereta kuda tersebut. Hingga kini, banyak yang menyebut jika Puter Kayun adalah lebarannya para kusir.
Sebagai salah satu bentuk tradisi masyarakat Banyuwangi, Puter Kayun pun tak lepas dari banyak ritual yang menyertainya. Tiga hari sebelum Puter Kayun, Boyolangu melaksanakan selamatan kupat lepet (ketupat lepet). Warga menggelar tikar di depan rumah masing-masing dan membagi-bagikan ketupat kepada sanak saudara. Hari kedua diadakan arak-arakan beragam budaya mengelilingi kampung. Mulai dari tapekong, kebo-keboan, kuntulan, barong, ondel-ondel, gandrung, hadrah dan patrol. Hingga pada hari terakhir, mereka berziarah ke makam Buyut Jaksa yang ada di Boyolangu, lalu dilanjutkan dengan tradisi Puter Kayun.
SEKTOR WISATA PENDONGKRAK PEREKONOMIAN NASIONAL
Sektor pariwisata saat ini menjadi penyumbang penerimaan negara terbesar setelah sektor energi. Tak lama lagi, pariwisata diprediksi menjadi sumber penerimaan terbesar negara. Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menilai jika langkah Banyuwangi dalam mengembangkan pariwisata sudah sangat tepat. “Pariwisata ini efektif menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi. Dan itu terbukti di Banyuwangi,” kata Luhut.
Ia menambahkan, jika pemerintah pusat akan menggelontorkan dana Rp50 miliar untuk memperbaiki infrastruktur kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Taman Nasional ini mempunyai padang rumput eksotis serta Pantai Plengkung dengan ombak terbaik di dunia yang sangat diminati olah wisman untuk selancar. Selain itu, ada perbaikan infrastruktur ke kawasan Kawah Ijen yang terkenal dengan fenomena alam Blue Fire.
Pemerintah pusat juga terus melakukan pembangunan infrastruktur wisata di kota Sunrise of Java ini. Banyuwangi telah ditetapkan sebagai daerah penyangga Pertemuan Tahunan IMF-World Bank yang diikuti 17.000 delegasi seluruh dunia, Oktober mendatang di Pulau Bali. Direncanakan, sebagian dari peserta tersebut akan singgah untuk menikmati keindahan alam dan budaya di ujung timur pulau Jawa. (ki/bpkd)